Rabu, 26 November 2014

Perjalanan hidup seorang pengusaha kertas bekas.

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Selamat datang di blog saya yang kampungan dan jauh dari kata sempurna.

Perkenalkan saya Sodikin, biasa dipanggil Abah, saya berasal dari daerah terpencil di kabupaten Indramayu. Di hari yang panas ini (Indramayu memang selalu panas) ijinkan saya megungkapkan apa yang ada di pikiran saya dengan harapan mudah2an tulisan saya yang asal-asalan ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Usia saya sekarang 47 tahun, membesarkan 3 orang anak menjadi keseharian saya dan istri di gubuk kami yang sangat sederhana. Dari hasil mengais rizki dengan berjual-beli kertas bekas, saya mencoba bertahan di tengah himpitan dan kerasnya hidup. Awal tahun 2005 dengan Basmalah saya mulai usaha kecil-kecilan menampung kertas bekas yang saya dapatkan dari para pencari rongsokan keliling di kampung saya. Dengan bermodalkan beberapa puluh juta rupiah yang saya dapatkan dari pinjaman Bank swasta di wilayah saya dan niat untuk menafkahi keluarga, saya memulai bisnis kecil ini.

Tiga bulan pertama usaha saya bias dibilang ramai dan rupiahpun saya kumpulkan untuk mengangsur setoran Bank dan sisanya saya pergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Saya merasa usaha saya akan maju pesat, karena baru pertama buka usaha saja saya bisa meraup keuntungan ±6 juta rupiah setiap bulannya, angka yang sangat besar untuk pengusaha kecil seperti saya.

Saya memutuskan untuk memperluas usaha saya dengan memproduksi mesin penggiling padi mini berjalan yang saya rakit sendiri, karena daerah saya adalah daerah pertanian dan saya rasa mesin seperti itu sangat diperlukan disini untuk mempersingkat proses penggilingan padi menjadi beras. Alhamdulillah, dengan modal pinjaman dari Bank lain saya berhasil menciptakan 3 unit mesin penggiling padi mini yang bisa berpindah-pindah karena saya modifikasi dengan mesin diesel untuk mobilisasinya.

Singkat waktu, usaha saya berjalan dengan lancar sampai mencapai tahun ketiga. Namun, bisnis memang penuh dengan liku-liku dan cobaan. Kemampuan management yang kurang memadai dan kurangnya pengawasan, karena saya menjalankan semua usaha dengan bermodalkan kepercayaan kepada orang2 yang saya anggap mampu untuk menjalankan bisnis saya. Bulan demi bulan saya merasakan usaha saya merosot jauh dari awal2 tahun usaha saya. Tapi saya tetap percaya kepada semua orang kepercayaan saya untuk tetap menjalankan bisnis saya. Dan akhirnya, di tahun 2013 saya mulai mengalami kebangkrutan. Mesin penggiling padi yang saya andalkan tidak mampu saya pertahankan lagi, karena kewjiban saya untuk membayar setoran Bank memaksa saya untuk melepas mesin2 itu satu-persatu. Dari saya gadaikan sampai saya jual lepas, saya relakan mesin2 itu saya jadikan uang untuk memenuhi kewajiban angsuran Bank meskipun sedih saya rasakan tapi saya harus berani mengambil keputusan, saya tidak mau bermasalah dengan pihak Bank yang selama ini mempercayai saya.

Sekarang tinggal usaha kertas yang saya jalankan, itupun hasilnya tidak cukup untuk menutupi angsuran Bank setiap bulannya, saya mencoba bertahan tapi rasanya sangat berat, debt collector mulai menyerang saya, tidak cukup sampai disitu, anak istripun jadi korban teror dan ancaman mereka. Ya Allah, tabahkanlah hamba untuk menghadapi kerasnya hidup seperti ini, saya ingin kembali seperti dulu, hari2 saya lalui dengan penuh semangat, tapi sekarang semua sudah berubah, hari2 saya lalui dengan penuh rasa takut dan malu. Pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mengakhiri penderitaan ini dengan bunuh diri, tapi Alhamdulillah saya masih punya sisa iman yang membuat saya bertahan sampai saya menulis di blog ini.

Sekarang, saya hanya ingin melunasi semua hutang2 saya yang sangat menyiksa kehidupan keluarga saya selama ini, saya rela lakukan apapun meskipun saya harus melepas organ di tubuh saya.

Mungkin Anda yang sudi membaca blog saya, dan kebetulan sedang membutuhkan pendonor organ untuk transplantasi, mohon hubungi saya, karena saya sangat membutuhkan uluran tangan dari orang2 dermawan seperti Anda, tapi saya tidak mau meminta, saya mau kita saling memberi dan tolong menolong. Demi Allah saya sama sekali tidak bermaksud menjual organ tubuh saya, saya hanya ingin terlepas dari jeratan hutang yang menyiksa keluarga saya.

Semoga Allah selalu melindungi orang2 yang bersabar dan semoga kejadian yang menipa saya menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin.

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata yang tidak berkenan.

Terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Hubungi saya di :


Facebook : Abah.sodikin01@gmail.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar